Warga Aceh Ramai-ramai Bikin Paspor Untuk Pergi ke Pulau Jawa, Ternyata Ini Penyebabnya

Beberapa hari ini, petisi online berjudul “Turunkan harga tiket pesawat domestik Indonesia” di situs change.org, ramai diperbincangkan.




Petisi yang dibuat oleh seseorang bernama Iskandar Zulkarnain dan ditujukan kepada Presiden Jokowi, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Direktur Utama Garuda Indonesia, ini berisi keluhan terkait naiknya harga tiket pesawat penerbangan domestik di Indonesia.
Dari pantauan Suar.ID hingga Sabtu (12/1/2019) pukul 11.30 WIB, petisi tersebut telah ditandatangani 121.997 orang.
Kenaikan harga tiket pesawat penerbangan domestik rupanya juga membuat orang-orang Aceh resah.
Antrean warga yang membuat paspor di Kantor Imigrasi Banda Aceh, Jumat (11/1/2019) siang.
Bahkan, diulas oleh Serambinews.com (11/1/2019), muncul fenomena baru di Aceh Ramai-ramai membua paspor untuk pergi ke Pulau Jawa.
Paspor tersebut digunakan sebagian besar warga Aceh untuk pergi ke kota-kota di Pulau Jawa seperti Jakarta dan Malang melalui Kuala Lumpur, Malaysia.
Ya, mereka akan terbang ke Kuala Lumpur terlebih dulu kemudian terbang ke kota-kota yang dituju di Pulau Jawa dari sana.
Hal ini dikarenakan, tiket pesawat dari Aceh langsung ke kota-kota di Pulau Jawa justru lebih mahal dibandingkan melalui jalur internasional dari Aceh – Kuala Lumpur – dan baru ke Pulau Jawa.
Di media sosial, warganet ramai memposting perbandingan harga tiketnya.
Misalnya saja untuk ke Jakarta, harga tiket domestik Banda Aceh – Jakarta mencapai Rp 3 juta, sementara harga tiket Banda Aceh – Jakarta via Kuala Lumpur, tidak sampai Rp 1 juta.
Bahkan, Asrizal H Asnawi anggota DPR Aceh turut memposting sindiran mengenai fenomena orang Aceh yang ramai membuat paspor sebagai akibat dari mahalnya harga tiket pesawat penerbangan domestik.
“Orang Aceh ke Jakarta pakai pasport, semoga orang Jakarta yg mau ke Aceh juga pakai pasport. Jelas sudah posisi kita,” tulis Wakil Ketua Komisi IV DPRA ini, dalam status Facebooknya yang kemudian mengundang berbagai tanggapan warganet.
Safaruddin SH Bikin Paspor Untuk 4 Orang Untuk Pergi ke Malang
Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH, membagikan ceritanya kepada Srambinews.com, saat harus membuat banyak paspor untuk pergi ke Malang.
“Saya harus bikin paspor untuk empat orang, 3 anak dan seorang keluarga lain, padahal saya ingin pergi ke Malang yang masih dalam wilayah Indonesia,” kata Safaruddin kepada Serambinews.com, Jumat (11/1/2019).
Berdasarkan hasil pengecekan di situs penjualan tiket, kata Safaruddin, jika menempuh penerbangan domestik dengan maskapai Garuda Indonesia, perlu uang sebesar Rp 4 juta lebih per orang untuk tiket Banda Aceh – Jakarta – Malang.
Harga tersebut membuat Safaruddin harus mengeluarkan uang sebesar Rp24 juta untuk enam orang.
Sementara melalui jalur Banda Aceh – Kuala Lumpur – Surabaya dengan maskapai Air Asia, harga tiketnya adalah Rp 950.000 per orang.
Maka, untuk 6 orang, Safaruddin hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 5.700.000.
Harga tiket tersebut, kata Safaruddin, sudah dia booking untuk penerbangan bulan Februari 2019.
“Saya bisa menghemat hampir 20 juta Rupiah. Dipotong untuk biaya pembuatan empat paspor sebesar Rp 1.420.000 (Rp 355 ribu per paspor), lalu potong lagi untuk ongkos bus dari Surabaya ke Malang sekitar 500 ribu, saya masih bisa menghemat sebesar 18 juta Rupiah,” kata pemegang kartu GarudaMiles Platinum bernomor 725 054 116 ini.
Pun begitu dengan maskapai penerbangan selain Garuda Indonesia yang harga tiket dari Banda Aceh ke Malang juga berkisar Rp3 juta per orang.
Safaruddin pun mengimbau masyarakat Aceh yang ingin ke Jakarta atau daerah-daerah lain di Pulau Jawa agar memilih jalur Kuala Lumpur.
Harga Tiket Pesawat Penerbangan Domestik
Mengutip Serambinews.com, di situs Traveloka untuk penerbangan domestik bulan Januari 2019 ini dari Banda Aceh ke Jakarta harganya memang di atas Rp2 juta per orang.
Misalnya saja dengan mengambil tangga acak, terbaca bahwa harga tiket keberangkatan 21 Januari 2019 dari Banda Aceh ke Jakarta naik Garuda Rp 2.962.700/orang.
Tiket Batik Air Banda Aceh-Jakarta Rp 2.559.000/orang.
Citilink transit di Kualanamu Rp 1.998.000/orang.
Lion transit di Kualanamu Rp 1.888.000- Rp 2.212.000/orang.
Sementara penerbangan AirAsia dari Banda Aceh ke Jakarta via Kuala Lumpur hanya Rp 879.700/orang.
Sementara pada tanggal 13 Februari 2019, harga tiket Garuda dari Banda Aceh ke Jakarta Rp 2.962.700/orang.
Batik Air dari Banda Aceh Rp 2.559.000/orang.
Citilink transit Kualanamu Rp 1.998.000/orang.
Lion transit Kualanamu Rp 1.888.000- Rp 2.212.000/orang.
Sedangkan Air Asia transit ke Kuala Lumpur harga tiketnya mulai Rp 716.700/orang.
Penerbangan naik Garuda dari Jakarta ke Banda Aceh pada 20 Maret 2019 mencapai Rp 3.057.700/orang.
Batik Air Banda Aceh-Jakarta Rp 2.609.000/orang.
Citilink transit Kualanamu Rp 2.013.000/orang.
Lion transit Kualanamu mulai Rp 1.918.000- Rp 2.242.000/orang.
Sedangkan transit naik AirAsia ke Kuala Lumpur, harga tiketnya hanya Rp 693.700/orang.
Menurut data yang dihimpun Serambinews.com dari curhatan warga di media sosial, kenaikan harga tiket ini “gila-gilaan”.
Warga Aceh berharap kenaikan harga tiket untuk penerbangan domestik hendaknya segera ditinjau oleh Menteri Perhubungan dan diturunkan kembali.
Sementara menanggapi keluhan dari warganet soal harga tiket pesawat yang dinilai mahal, Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia Ikhsan Rosan buka suara.
Seperti dikutip dari Tribunnews.com, Ikhsan menegaskan range harga tiket pesawat yang ditetapkan maskapainya tidak menyalahi aturan batas atas oleh Kemenhub.
Ia juga menampik pihaknya menaikkan harga tiket pesawat, melainkan harga disesuaikan dengan jumlah permintaan yang masih tinggi.
“Untuk tarif, kami selalu mengikuti ketentuan yang ada. Tidak pernah melampaui batas atas yang ada. Pasca liburan ini, permintaan ke kota-kota besar memang masih tinggi,” jelas Ikhsan Rosan saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Kamis (10/1/2019).
Maskapai Lion Air juga berpendapat sama dengan Garuda Indonesia.
“Kalau tarif tiket hingga Januari 2019 ini mengikuti aturan, tidak melebihi batas atas,” terang Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro kepada Tribunnews.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel