Inilah Wanita yang Selalu Dicatat Dosanya Oleh Malaikat, Meski Dia Sedang Tidur

Ia lagi tidur, tetapi malaikat mencatat dosa untuknya
ia lagi sholat, tetapi malaikat mencatat dosa untuknya
ia diam, tetapi malaikat mencatat dosa untuknya 


ia lagi makan, belajar, dan juga menyapu di rumah. tetapi malaikat mencatat dosa untuknya
mengapa dapat demikian? tarnyata, karna banyak mata yang memandang photo pribadinya di media sosial. tiap kali terdapat yang memandang fotonya, malaikat mencatat dosa untuknya.
kenapa upload photo diri tercantum dosa jariyah? karna allah melarang perempuan menampakkan kecantikannya kecuali pada suami dan juga mahramnya, serupa dalam firman – nya;
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ
“… dan juga hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan juga janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) , kecuali kepada suami mereka, ataupun bapak mereka, ataupun bapak suami mereka, ataupun putra – putra mereka …” (qs. an – nūr : 31)
allah pula melarang perempuan berhias kecuali buat suami dan juga mahramnya, serupa yang tercantum di dalam al – qur’an,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“dan hendaklah kalian senantiasa di rumahmu dan juga janganlah kalian berhias dan juga (bertingkah laku) serupa orang – orang jahiliah dulu …” (qs. al – ‘aĥzāb : 33)
tidak hanya itu, allah menjadikan perempuan bagaikan tes terbanyak untuk laki – laki;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
“dijadikan indah pada (pemikiran) manusia kecintaan kepada apa – apa yang diingini, ialah: wanita – wanita, …” (qs. Āli imrān : 14)
“aku tidak meninggalkan satu fitnah juga yang lebih membahayakan para lelaki tidak hanya fitnah perempuan. ” (hr. bukhari 5096 dan juga muslim 2740)
saat ini coba kita perhatikan fenomena selfie ini. para perempuan berlomba – lomba mengunggah photo terbaiknya.
dengan ekstra filter ini, whitening itu, belum lagi lipstik dan juga yang lain yang dipakai supaya terus menjadi nampak menawan di photo. sering – kali sembari memamerkan diri lagi berposisi di posisi bagus. ataupun lagi menggunakan baju bagus.
apa yang dicari?
sedangkan tanpa ia sadari malaikat terus mencatatkan dosa jariyah untuknya atas unggahan photo yang dia publikasikan. terus menjadi banyak mata pria bukan mahram yang memandang photo itu, terus menjadi bertumpuk dosa yang dibebankan padanya.
terus menjadi banyak pria bukan mahram yang tertarik dengan kecantikannya di photo itu, terus menjadi besar pula dosa yang ditimpakan untuknya.
bila kalian peruntukan photo dirimu buat berdakwah, apa sekiranya kalian temui 1 aja lukisan ataupun arca diri ‘aisyah radhiyallahu ‘anha yang dia pakai buat menyebarkan islam? (sementara itu dia hidup di jaman yang manusianya pada dikala itu mahir membikin arca. hingga terdapat kah 1 arca diri dia? )
malaikat mencatat seluruh perbuatan manusia
ustadz nur kholis bin kurdian
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
dan juga sebetulnya kami telah menghasilkan manusia dan juga mengenali apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan juga kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. ialah kala kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan juga yang lain duduk di sebelah kiri. tiada satu perkataan juga yang diucapkannya melainkan terdapat di dekatnya malaikat pengawas yang senantiasa muncul. [qâf/50: 16 – 18]
makna kata (arti mufradat) dalam ayat
تُوَسْوِسُ : (hatinya) membisikkan.
حَبْلِ الْوَرِيدِ : urat leher.
يَتَلَقَّى : mencatat (amal perbuatannya).
الْمُتَلَقِّيَانِ : kedua (malaikat) yang mencatat.
قَعِيدٌ : duduk
يَلْفِظُ : mengucapkan
رَقِيبٌ : (malaikat) pengawas.
عَتِيد : yang senantiasa muncul/ berbarengan.
arti ayat secara umum
syaikh abdurrahman as – sa’di rahimahullah berkata, “allâh subhanahu wa ta’ala mengabarkan kalau dialah yang menghasilkan manusia, baik laki ataupun wanita, ia mengenali kondisi mereka, mengenali apa yang membikin hati mereka bahagia dan juga apa yang dibisikkan oleh hati mereka. kedekatan – nya dengan manusia lebih dekat daripada urat lehernya, sementara itu urat leher ini tercantum anggota badan yang amat dekat dari manusia. ialah urat yang berposisi di dekat lubang kerongkongan. pemberitahuan allâh subhanahu wa ta’ala ini mampu memotivasi seorang buat murâqabah (terasa diawasi) oleh si pencipta, ialah dzat yang mengawasi batinnya, yang dekat darinya dalam seluruh suasana dan juga keadaan. hendaklah seorang malu dilihat oleh allâh subhanahu wa ta’ala bila dia ingin melaksanakan apa yang dilarang dan juga meninggalkan apa yang diperintahkan. dan juga saat sebelum seorang mengucapkan ataupun melaksanakan kemungkaran ataupun meninggalkan kewajibannya, hendaklah terasa diawasi oleh malaikat yang berposisi di sebelah kanan dan juga kirinya yang siap melakukan tugasnya. di sebelah kanannya merupakan malaikat pencatat perkataan dan juga perbuatan baik, sebaliknya di sebelah kirinya merupakan malaikat pencatat perkataan dan juga perbuatan kurang baik. tidak terdapat satu juga perkataan yang terucap, baik perkataan itu baik ataupun kurang baik melainkan terdapat malaikat yang tetap mengawasi dan juga muncul bersamanya buat mencatat perkataannya tersebut. [1]
ilmu dan juga pengetahuan allah subhanahu wa ta’ala terhadap seluruh sesuatu
allâh azza wa jalla berfirman :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
dan juga begitu kami telah menghasilkan manusia dan juga kami mengenali apa yang dibisikkan hatinya, …[qâf/50: 16].
syaikh asy – syinqithi rahimahullah mengatakan, “dalam ayat ini, allâh subhanahu wa ta’ala menarangkan kalau tidak terdapat yang tersembunyi untuk allâh subhanahu wa ta’ala. yang tersembunyi juga sama serupa yang terlihat di sisi – nya, dan juga ia maha mengenali gerak – gerik hati dan juga apa yang terlihat. ”[2]
jadi allâh subhanahu wa ta’ala mengenali dan juga melihat apa – apa yang tersembunyi dalam hati manusia, dan juga mengenali apa yang diperbuat oleh manusia di manapun dia berposisi, di darat, di hawa ataupun di laut, pada waktu malam ataupun juga siang, di dalam rumah ataupun juga di luar rumah; seluruhnya sama dalam pengawasan allâh subhanahu wa ta’ala. ia memandang di manapun manusia berposisi dan mengenali apa – apa yang mereka sembunyikan. [3]
allâh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat lain :
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
dan juga ketahuilah sebetulnya allah mengenali apa yang terdapat dalam hati kamu, hingga takutlah kepada – nya, dan juga ketahuilah sebetulnya allâh maha pengampun lagi maha penyantun. [al – baqarah/2: 235].
allâh subhanahu wa ta’ala pula berfirman pada ayat lain :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
sebetulnya untuk allâh tidak terdapat suatupun yang tersembunyi di bumi dan juga tidak pula di langit. [ali ‘imrân/3: 5]
ayat di atas dan juga yang semisalnya menampilkan kalau allâh subhanahu wa ta’ala itu maha ketahui terhadap seluruh suatu. ini membagikan pelajaran supaya kita tetap terasa diawasi oleh allâh subhanahu wa ta’ala dalam tiap perkataan dan juga tingkah – laku, karna kita bukanlah terlepas dari pengawasan – nya.
salah seseorang dari ulama salaf mengatakan, “jika kamu melaksanakan sesuatu perbuatan, hingga ingatlah kalau allâh subhanahu wa ta’ala memandang perbuatanmu; dan juga bila engkau berdialog, hingga ingatlah rungu allâh subhanahu wa ta’ala atas pembicaraanmu; dan juga kala engkau diam, hingga ingatlah pengetahuan allâh subhanahu wa ta’ala atas apa yang terdapat di dalam hatimu). [4]
murâqabatullah (kerasa diawasi dan juga dilihat allâh subhanahu wa ta’ala ) ini apabila menancap kokoh dalm hati seseorang hamba dalam tiap gerak – geriknya, hingga ini hendak membentengi ia dari perbuatan maksiat, sebagaimana telah dicoba oleh nabi allâh ialah yûsuf alaihissallam menjauh dari godaan zulaikhah, isteri seseorang raja yang menawan jelita. allâh subhanahu wa ta’ala mengisahkan dalam firman – nya :
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ
dan juga perempuan (zulaikha) yang yûsuf tinggal di rumahnya yang menggoda yûsuf buat menundukkan pribadinya dan juga ia menutup pintu – pintu, seraya mengatakan: ”marilah kesini”, yûsuf mengatakan: “aku berlindung kepada allâh”. [yûsuf/12: 23].
demikian pula diriwayatkan oleh imam al – baihaqi rahimahullah, bahwasannya terdapat seseorang al – a’rabi (orang gurun/baduwi) , kala dia keluar dari rumahnya dikala malam hari yang hitam gulita dia berjumpa dengan budak wanita, setelah itu dia mau berbuat zina dengan budak tersebut, kemudian sang budak wanita juga mengatakan, “celaka kalian, apa kalian tidak malu melaksanakan ini ? apa kalian tidak mempunyai agama yang melarangmu dari perbuatan mesum ini? ” sang baduwi juga menanggapi, “sungguh, tidak terdapat yang memandang kita kecuali bintang – bintang di langit saja”. sang budak wanita menanggapi, “bukankah si pencipta bintang memandang kita ? ”[5]
murâqabah inilah yang menimbulkan seorang berbuat jujur dalam tutur kata dan juga perilakunya. murâqabah pula menjadikan seorang melakukan amanat dan juga tidak berkhianat, berbuat adil dan juga tidak menzhalimi teman , tidak mengambil harta yang bukan haknya, baik secara sembunyi – sembunyi (korupsi) ataupun terang – terangan (merampok). bila murâqabah tersebut terdapat di hati tiap muslim, tentu dunia islam hendak menemui kejayaan, para pejabat tidak korupsi, terlebih lagi menyisihkan harta mereka buat fakir miskin dan menegakkan keadilan. dengan murâqabah ini, para orang dagang juga tidak kurangi timbangan, tempat – tempat kemaksiatan juga hendak gulung tikar dengan sendirinya, pencuri, perampok, psk, pengedar dan juga konsumen narkoba hendak meninggalkan profesi mereka, dengan tanpa terdapatnya pemaksaan atas diri mereka.
terdapat satu persoalan, bila allâh subhanahu wa ta’ala mengenali apa yang tersembunyi dalam hati seseorang hamba, apakah tiap suara hati yang mengajak kepada kemungkaran hendak dicatat bagaikan kemaksiatan dan juga dosa ?
jawaban dari persoalan ini merupakan sabda rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا، أَوْ يَعْمَلُوا بِهِ
sebetulnya allâh subhanahu wa ta’ala memaafkan umatku dari bisikan kurang baik jiwanya selagi dia tidak mengatakannya ataupun melaksanakannya. (hr bukhâri dan juga muslim). [6]
jadi, bisikan hati ataupun suara hati yang mungkar ataupun mengajak kepada kemungkaran tidak dicatat bagaikan dosa, selagi perihal itu tidak diungkapkan dengan perkataan ataupun diwujudkan dalam perbuatan.
pengertian keakraban allah subhanahu wa ta’ala
berikutnya allâh subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
dan juga kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. [qâf/50: 16].
penggalan ayat di atas, bila dimengerti secara zhahir lafadznya (tekstual) membagikan uraian kalau dzat allâh subhanahu wa ta’ala itu lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya. uraian serupa ini menimbulkan sebagian orang berpikiran kalau dzat allâh subhanahu wa ta’ala terdapat dalam diri manusia, sampai – sampai dia tidak mampu membedakan antara sang makhluk dengan si khaliq, sampai – sampai terdapat yang mengucapkan kalimat tahlîl dengan berkata “lâ ilâha illâ ana” (tidak terdapat tuhan kecuali saya) , dengan berpikiran kalau si khaliq terdapat dalam pribadinya. uraian serupa ini tidak benar, dan juga maha suci allâh subhanahu wa ta’ala dari uraian serupa ini; karna di samping menyelisihi uraian para ulama, uraian ini pula berikan arti kalau allâh subhanahu wa ta’ala menyatu dengan seluruh orang, baik yang shalih, kafir ataupun fasiq, maha besar allâh subhanahu wa ta’ala dari yang demikian itu…! uraian ini pula menyelisihi ayat – ayat allâh subhanahu wa ta’ala yang menarangkan kalau dzat allâh subhanahu wa ta’ala terdapat di atas ‘arsy – nya, serupa disebutkan dalam firman allâh subhanahu wa ta’ala :
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
yang maha pengasih bersemayam di atas arsy – nya. [thahâ/20: 5].
pada ayat yang lain allâh subhanahu wa ta’ala berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
sebetulnya rabbmu merupakan yang telah menghasilkan langit dan juga bumi dalam 6 hari setelah itu ia bersemayam di atas ‘arsy – nya, … [al – a’râf/7: 54].
allâh subhanahu wa ta’ala pula berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
sebetulnya rabbmu merupakan yang telah menghasilkan langit dan juga bumi dalam 6 hari, setelah itu ia bersemayam di atas ‘arsy – nya buat mengendalikan seluruh urusan… [yûnus/10: 3].
allâh subhanahu wa ta’ala pula berfirman.
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى
“allâh – lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kalian amati, setelah itu ia bersemayam di atas ‘arsy – nya, dan juga menundukkan matahari dan juga bulan, tiap – tiap tersebar hingga batasan waktu yang ditentukan…[ar – ra’d/13: 2].
allâh subhanahu wa ta’ala pula berfirman.
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“yang menghasilkan langit dan juga bumi dan juga apa yang terdapat di antara keduanya dalam 6 hari, setelah itu ia bersemayam di atas ‘arsy – nya…[al – furqân/25: 59].
dan juga masih banyak lagi ayat – ayat yang menarangkan kalau dzat allâh subhanahu wa ta’ala terdapat di atas ‘arsy – nya, tidak menyatu dalam diri manusia.
syaikhul – islam berkata, “adapun orang yang berpikiran kalau keakraban allâh subhanahu wa ta’ala dalam ayat di atas merupakan keakraban dzat allâh subhanahu wa ta’ala , hingga uraian yang serupa ini merupakan amat lemah, karna bagi mereka dzat allâh subhanahu wa ta’ala terdapat di mana mana. kalaulah dzat allâh subhanahu wa ta’ala itu terdapat di mana – mana, hingga dia dekat dengan seluruh suatu. dia pula dekat dari segala anggota badan manusia; bila demikian, hingga pengkhususan pada ayat di atas kalau dzat allâh subhanahu wa ta’ala itu lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya jadi tidak terdapat maksudnya. ”[7]
lalu, bagaimanakah pengertian para ulama terhadap ayat di atas?
para ulama, dalam menafsirkan ayat di atas, mereka berubah komentar. komentar kesatu berkata kalau keakraban tersebut merupakan keakraban maqdarah (keahlian dan juga kekuasaan) allâh subhanahu wa ta’ala dan juga keakraban ilmu[8] (pengetahuan) allâh subhanahu wa ta’ala terhadap manusia. [9] komentar kedua berkata kalau keakraban tersebut merupakan keakraban malaikat allâh subhanahu wa ta’ala terhadap manusia. [10]
komentar kedua inilah yang râjih (kokoh) karna mempunyai argumentasi yang kokoh pula, antara lain:
1. kesatu. allâh subhanahu wa ta’ala memadu potongan ayat di atas dengan zharaf era (penjelasan waktu) yang terletak pada ayat selanjutnya, ialah :
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
ialah kala kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan juga yang lain duduk di sebelah kiri. [qâf/50: 17].
perihal itu membagikan arti, yang diartikan dengan keakraban kami pada ayat di atas merupakan keakraban malaikat – malaikat – nya, dan juga tidak sesuai bahwa dimaksud dengan keakraban ilmu allâh azza wa jalla ataupun keakraban kekuasaan – nya, karna keakraban ilmu allâh azza wa jalla dan juga kekuasaan – nya terhadap makhluk – nya itu tiap dikala dan juga tidak terikat dengan waktu tertentu. dan juga andaikata dimaksud dengan keakraban ilmu ataupun kekuasaan, hingga tidak terdapat maksudnya jalinan dzaraf era tersebut. [11]
2. kedua. allâh azza wa jalla mengatakan dengan kata jamak نحن (kami). perihal ini, bila disebutkan di dalam ayat – ayat al – qur’ân, hingga maknanya merupakan allâh azza wa jalla melaksanakannya dengan trik memerintahkan para malaikat – nya buat melaksanakannya, serupa ada pada banyak ayat antara lain :
نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
kami membacakan kepadamu sebagian dari cerita musa dan juga fir’aun dengan benar buat orang – orang yang beriman. [al – qashash/28: 3].
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
kami menggambarkan kepadamu cerita yang amat baik dengan mewahyukan al – qur’an ini kepadamu, dan juga sebetulnya kalian saat sebelum kami mewahyukannya merupakan tercantum orang – orang yang belum mengenali. [yûsuf/12: 3]
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
sebetulnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan juga (membuat kamu pandai) membacanya. apabila kami tuntas membacanya, hingga ikutilah bacaannya. [al – qiyâmah/75: 17 – 18].
dan juga masih banyak lagi ayat – ayat yang lain yang kesemuanya itu menampilkan kalau yang melaksanakan perbuatan tersebut merupakan malaikat – malaikat allâh subhanahu wa ta’ala atas perintah – nya. [12]
ketiga. pemakaian uslûb (style bahasa) semacam ini sudah tidak asing lagi dalam bahasa arab. demikian ini kerap dipakai oleh para pemimpin dan juga pembesar arab, ialah menyandarkan perbuatan para prajurit kepada mereka, para pemimpin; yang perbuatan itu dicoba atas dasar perintah dari pemimpin mereka. oleh karna itu sebagian pemimpin berkata “kami telah menghabisi dan juga mengalahkan musuh”. demikian pula para pakar sejarah berkata “raja fulan telah menaklukkan negeri ini dan juga itu”, sementara itu yang melaksanakan merupakan pasukan dan juga bala tentaranya atas perintahnya. dan juga tercantum style bahasa yang serupa ini pula pada ayat – ayat yang telah disebutkan di atas, ialah dengan mengenakan kata jamak yang menampilkan kalau yang melaksanakan perihal itu merupakan malaikat allâh subhanahu wa ta’ala atas dasar perintah – nya. [13]
dan juga masih banyak lagi argumentasi dari komentar kedua tersebut. jadi, iktikad keakraban pada ayat di atas merupakan keakraban malaikat allâh subhanahu wa ta’ala.
perkataan dan juga perbuatan manusia dicatat oleh malaikat
berikutnya allâh azza wa jalla berfirman :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
tiada satu perkataan juga yang diucapkannya melainkan terdapat di dekatnya malaikat pengawas yang senantiasa muncul. [qâf/50: 18].
pada ayat ini allâh azza wa jalla mengatakan kalau perkataan manusia itu tidak luput dari catatan 2 malaikat – nya yang ditugaskan bagaikan pencatat amal. yang satu mencatat amalan baik, dan juga yang yang lain mencatat amalan kurang baik. perihal ini mampu jadi motivasi untuk tiap hamba yang beriman buat tetap terasa diawasi oleh malaikat pencatat amalan dalam tiap perkataaan dan juga tingkah lakunya.
kemudian apakah seluruh perkataan manusia itu dicatat oleh malaikat hingga yang mubah pula, misal serupa “saya sudah makan, minum , berangkat , datang”, dan juga lain – lain, ataupun cuma yang baik dan juga kurang baik aja?
dalam perihal ini, para ulama berselisih komentar dibagi dalam 2 komentar.
1. komentar kesatu berkata kalau yang dicatat itu merupakan seluruh perkataan, baik perkataan yang mubah, haram ataupun yang baik.
2. komentar kedua berkata tidak seluruh perkataan itu dicatat, hendak namun perkataan yang baik dan juga kurang baik aja. dan juga yang râjih dari 2 komentar ini merupakan komentar kesatu, karna keumuman ayat di atas menampilkan kalau seluruh perkataan itu dicatat oleh malaikat. [14]
buat apa seluruh amalan manusia itu dicatat ? bukankah allâh azza wa jalla mengenali seluruhnya ?
jawabannya, betul, allâh azza wa jalla tidak memerlukan perihal itu, karna ia mengenali segalanya, tidak terdapat yang tersembunyi sesuatupun dari – nya. ada juga ia memerintahkan malaikat – nya buat mencatat amalan manusia merupakan karna terdapat hikmah lain di balik itu; semisal buat menegakkan hujjah ataupun bagaikan fakta atas manusia nanti pada hari kiamat kalau dia sempat mengatakan dan juga berbuat demikian dan juga demikian, sampai – sampai manusia tidak mampu mengingkarinya karna terdapat fakta catatan amalnya, sebagaimana firman allâh azza wa jalla :
وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ﴿١٣﴾ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
dan juga kami keluarkan menurutnya pada hari kiamat suatu kitab (catatan amal) yang dijumpainya terbuka. “bacalah kitabmu, cukuplah dirimu seorang diri pada waktu ini menghitung amalanmu sendiri”. [al – isrâ/17: 13 – 14]. [15]
pelajaran yang mampu dipetik dari ayat
1. allâh subhanahu wa ta’ala maha mengenali seluruh suatu hingga apa aja yang terdapat dalam hati manusia, hingga hendaklah diperuntukan bagaikan motivasi tiap muslim buat tetap terasa diawasi oleh allâh subhanahu wa ta’ala pada tiap perkataan ataupun perbuatan.
2. bisikan hati ataupun suara hati yang mungkar ataupun mengajak kepada kemungkaran tidak dicatat bagaikan dosa selagi tidak diungkapkan dalam perkataan ataupun diwujudkan dengan perbuatan.
3. perbuatan dan juga perkataan manusia tidak luput dari catatan 2 malaikat allâh subhanahu wa ta’ala yang senantiasa mengawasi dan juga muncul berbarengan manusia, hingga hendaklah diperuntukan bagaikan motivasi oleh tiap muslim buat melindungi perkataan dan juga perbuatannya dari perihal yang tidak diradhai allâh subhanahu wa ta’ala.
4. keakraban pada ayat di atas merupakan keakraban malaikat allâh subhanahu wa ta’ala yang lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya.
5. 2 malaikat pencatat amal manusia itu berposisi di sebelah kanan dan juga kirinya. di sebelah kanan pencatat amalan baik, dan juga di sebelah kiri pencatat amalan kurang baik, bukan berarti di sebelah kanan dan juga kiri itu di sebelah pundak kanan dan juga kiri manusia, sampai – sampai terkesan kontradiksi dengan keakraban kepada manusia melebihi dekatnya urat leher, hendak namun keakraban malaikat tersebut senantiasa lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya walaupun posisi mereka berposisi di sebelah kanan dan juga kiri. ada juga keberadaan mereka terletak di mana ? hingga allâh subhanahu wa ta’ala yang lebih mengenali hal – hal ini.
6. diantara hikmah dari pencatatan perkataan dan juga perbuatan manusia, yakni buat menegakkan hujjah atas mereka nanti pada hari kiamat, ataupun bagaikan fakta kalau dia dulu, kala di dunia telah mengatakan ataupun berbuat demikian dan juga demikian, sampai – sampai dia tidak mampu menolak dan juga mengingkari perihal itu karna terdapat fakta nyata. wallâhu a’lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel