Para Suami Wajib Baca Ini " Inilah Hukum Hubungan dengan 'Pen-gaman' Saat Istri Ha-id

Hu-bu-n-gan i-nt-i-m su-a-mi is-t-ri dapat dilakukan dengan atau tanpa peng-am-an (kont-ra-se-psi). Tetapi hu-b-u-ngan bad-an ketika istri sedang hai-dh dihara-m-kan. Orang yang menganggap halal praktik s-e-ksual dalam kondisi perempuan sedang hai-dh dapat jatuh dalam kekufuran karena menghalalkan sesuatu yang jelas h-a-r-a-m dalam agama.



Dikutip dari laman nu.or.id, Sabtu 30 Juni 2018, keharaman hu-b-u-ngan b-a-d-a-n ketika istri sedang hai-d-h didasarkan pada Surat Al-Baqarah ayat 222 berikut ini:

" Mereka bertanya kepadamu tentang hai-dh, katakanlah, ‘Itu adalah ko-t-oran. Maka itu, jauhilah perempuan saat ha-idh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci," (Surat Al-Baqarah ayat 222).

Lalu bagaimana dengan hub-u-ng-an ba-d-a-n ketika ist-ri sedang menjalani masa ni-f-as meskipun di ujung masa ni-fas?

Jika Tetap Dilakukan Maka

Meskipun perempuan yang menjalani masa ni-f-as tidak disebutkan dalam Al-Quran, ulama menganolgikan kedudukan hukumnya dengan perempuan yang ha-idh.

" Hubu-n-gan ba-d-an dengan is--tri yang sedang hai-dh har-a-m- berdasarkan kesepakatan ulama. Seorang Muslim yang menganggapnya halal bisa berubah menjadi kufur. Keharaman ini didasarkan pada firman Allah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang ha-idh, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat hai-dh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’" (Surat Al-Baqarah ayat 222).

" Mereka yang tengah melalui masa nifas sama dengan mereka yang sedang haidh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 552).

Lalu bagaimana bila h-u-b-u-n-gan ba-d-an saat istri yang sedang haidh atau sedang menjalani masa n-i-fas dilakukan dengan menggunakan pengaman (k-o-n-d-o-m) atau alat ko-n-tra-se-psi seperti yang dikenal orang sekarang ini?

Bisa dengan Cara Lain yang Dibenarkan

Hu-bu-n-ga-n b-a--d-an dengan mengenakan pengaman ketika i-s-tri sedang haidh atau n-i-f-as tetap ha-r-am dalam hukum Islam sebagaimana keterangan dalam Kitab Al-Fiqhu alal Madzahibil Arba‘ah berikut ini:

Hubungan badan dengan perempuan yang sedang h-a-i-dh haram meskipun dengan alat pe-ng-aman seperti k-o-n-d-om yang cukup terkenal,” (Lihat Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu alal Madzahibil Arba‘ah, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 114).
Dari keterangan ini dapat diambil simpulan h-u-bu-n-g-a-n badan dengan mengenakan pe-nga--man ketika is-tr-i sedang ha-idh atau ni-fas tetap ha-ram.-
Sementara waktu aktivitas s-e--k-s-u-al atau hu-b--un-gan ba-dan saat is-tri sedang hai-dh atau ni--fas tidak bisa dilakukan dengan hu-bu--ngan ba--dan, tetapi dengan cara lain yang dibenarkan oleh syariat. Wallahu a‘lam.
(Sumber: nu.or.id)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel