Akibat Orangtuanya Tak Membaca Doa Saat Berji-mak, Anak Bisa Durhaka Dan Bandel?

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

« لَـوْ أَنَّ أَحَدَهُـمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يـَأْتِيَ أَهْلَـهُ قـَالَ بِاسـْمِ اللَّهِ اللَّـهُمَّ جَنـِّبْنَا الشَّـيْطَانَ وَجـَنِّبْ الشَّـيْطَانَ مـَا رَزَقْتـَنَا ، فـَإِنَّهُ إِنْ يُـقَدَّرْ بَيْنَـهُمَا وَلَـدٌ فِـي ذَلِـكَ لـَمْ يَـضُرَّهُ شَـيْطَانٌ أَبــَدًا »
“Seandainya salah seorang diantara kalian jika hendak mendatangi isterinya (jima’) mengucapkan: “Bismillah, Ya Allah, jauhkanlah dari kami syaithan, dan jauhkanlah syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami” maka sungguh jika telah ditakdirkan padanya seorang anak tidaklah akan dibahayakan oleh syaithan selama-lamanya. ” Bukhari (6388) & Muslim (1434).





Apakah yang berdoa kedua pasa-n-gan su-a-mi dan istri tersebut??

Berkata Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:

لا، ظـاهر الـحديث أن الـذي يـقوله هـو الـرجل، ثـمَّ إنَّ الولـد مكـوَّن مـن مـاء الـرَّجل، فيـكون هـذا خـاصاَّ بالرَّجـل
Tidak, yang nampak dari hadits bahwa yang mengucapkannya hanyalah lelaki (suami), kemudian anak itu terjadi dari cai-r-an (sp-e-r-ma) lelaki, maka ini hanyalah khusus bagi lelaki (suami). Syarhu Shahih Muslim (5/31).

Lalu bagaimana jika lupa berdoa?

Jika lupa, tentu saja kesempatan untuk mendapatkan manfaat di atas menjadi hilang. Hanya saja, doa ini tidak wajib, dan tidak ada kaffarah jika ditinggalkan. Dan tidak ada anjuran untuk membacanya di tengah jimak atau setelah jimak.

Berkata Asy Syeikh Al Albani rahimahullah:

” مـن نسـي الدعـاء وكـان دائـما يذكـره فـهذا فـي غـالب ظنـي أن الله سـيحفظه مـن مشـاركة الشـيطان لـه في جماع زوجته بعكس غيره والـحكم متـعلق بالغـالب.”
Barangsiapa yang lupa berdoa dan adalah kebiasaannya selalu berdoa, maka ini menurut persangkaan kuatku, Allah tetap akan menjaganya dari ikut andilnya syaithan ketika ia men-g-g-auli ist--rinya, dan ini berbeda dengan lawannya, karena hukum itu terikat dengan kebanyakannya. Silsilah Al Huda Wan Nuur (12).

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وهذا الدعاء مستحب لا واجب، فمن تركه ولو عمدا لم يكن عليه جناح
Doa ini anjuran dan tidak wajib. Karena itu, siapa yang meninggalkannya, meskipun sengaja, tidak berdosa. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 146507)

Apakah anaknya akan menjadi durhaka?

Jika Allah takdirkan jadi anak, apakah anaknya akan menjadi durhaka?

Salah satu sebab untuk melindungi anak dari godaan setan adalah dengan membaca doa sebelum melakukan h-ub-u-n-ga-n ba-dan.

Hanya saja perlu dipahami, bahwa itu hanya salah satu sebab. Artinya, masih ada sebab lain yang membentuk karakter seorang anak.

Ulama menegaskan bahwa hadis ini tidaklah menunjukkan bahwa setiap anak terlahir dari hasil hubu-n-g-an bad---an yang sebelumnya diawali dengan doa, dia akan menjadi manusia yang makshum, terbebas dari setiap dosa dan godaan setan.

Karena setiap kejadian ada sebab dan ada penghalang. Usaha orang tua, yang berdoa ketika hendak berhu--b--un--ga--n ba--dan, merupakan salah satu sebab agar anak tersebut selamat dari godaan setan.
Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, terdapat banyak penghalang dan sebab lainnya, yang membuat anak ini tidak bisa bersih dari godaan setan, sehingga dia melakukan kemaksiatan. (Taisirul Alam Syarah Umdatul Ahkam, 1/588)

Karena itu, bukan jaminan bahwa setiap anak yang terlahir dari hub--u-ng--an ba-da--n yang diawali dengan doa, pasti akan menjadi anak yang soleh. Demikian pula sebaliknya, bukan jaminan, setiap anak yang terlahir dari hu--bun--gan ba---dan tanpa diawali doa, atau bahkan terlahir dari hu--bu--nga-n haram (zi-na), pasti akan menjadi anak setan, atau bala tentara iblis.

Diantara usaha yang bisa dilakukan orang tua adalah memperhatikan pendidikan selama masa tumbuh kembang anak. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. at-Tahrim: 6)

Termasuk mendoakan agar keluarga selalu mendapat penjagaan, dan diberi hidayah. Seperti doa yang Allah sebutkan di surat al-Furqan ketika Allah bercerita tentang karakter ibadurrahman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74).

Demikian, Allahu a’lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel